PKB Surabaya Meradang, Syamsul: Pernyataan Musyafak Kebiasaan Adu Domba

Jawa Timur Politik
Bagikan
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Metrojatim.com Surabaya –┬áSeakan tidak pernah berhenti berpolemik, kali ini giliran Ketua DPC PKB Surabaya Musyafak Rouf menyoal struktur Dewan Pengurus Anak Cabang atau pengurus PKB ditingkat Kecamatan yang dianggapnya sudah tidak aktif semua.
“20 DPAC itu produknya mas Syamsul yang SKnya sudah habis. Mereka yang bersedia mendukung kepengurusan kita, ya kita usulkan SKnya hidupkan lagi, tapi kalau tidak mau ya carikan gantinya”. Katanya.

Pernyataan Musyafak itu ditanggapi santai oleh Syamsul Arifin mantan ketua DPC PKB Surabaya, bahkan terkesan cuek.
“Terserah semaunya Cak Syafak dan Gus Halim aja kalau soal itu”. Ucapnya di sela-sela buka bersama minggu 3/6/2018.
Ditanya tentang 20 pengurus DPAC yang dianggap hasil produknya, Cak Syam panggilan akrabnya Syamsul Arifin membantah bahwa apa yang disampaikan Musyafak itu tidak benar dan terkesan mengadu domba. “Iya begitu itu kalau org biasa fitnah dan adu domba, bicara selalu tidak benar, kalau tidak tahu ya tidak usah ngomong, apalagi ini bulan puasa”. Ucapnya.
Cak Syam menuturkan kalau DPAC PKB se Surabaya itu sudah terbentuk, 29 dari 31 DPAC sudah ber SK, bukan seperti yang di sampaikan Musyafak.
“Suruh ngecek dulu yang benar. Kami sudah 29 dari 31 DPAC ber SK, tidak benar kalau Cak Syafak Bilang begitu”. Imbuhnya.

Putra kelahiran Madura ini juga mengaku kalau dulu masa periodenya sudah mengusulkan musyawarah anak cabang atau MUSANCAB untuk menyusun kepengurusan ditingkat kecamatan, tapi usulan itu tidak direspons oleh Dewan Pengurus Wilayah atau DPW PKB Jawa Timur yang mempunyai wewenang untuk urusan itu. “Ya sudah basi kalau bicara DPAC dan mengusulkan sekarang Saya sudah usulkan MUSANCAB dari dulu, bahkan sejak masih sektetaris DPW dijabat Cak Thoriq dan itu memang wewenangnya DPW”. Tambahnya.

“Pengurus yang ada sekarang silahkan kalau mau gabung ke Cak Syafak, silahkan dipikir dengan akal sehat dan dewasa, kalau saya pribadi tetap tidak mau punya pimpinan partai yang pernah buron dan mantan napi korupsi.” Pungkasnya. (mj/yy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *