Peduli Pemajuan Kebudayaan Dewan Kesenian Kab. Blitar Gelar Obrolan Malam Jemuah

Bagikan
  • 3
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    3
    Shares

Metrojatim.com Blitar – Pasca terbitnya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, hampir bisa dipastikan bahwa ke depannya perspektif pembangunan kebudayaan di Indonesia akan semakin berkembang. Untuk mempersiapkan hal tersebut dibutuhkan sebuah eksistem kebudayaan yang mampu melibatkan berbagai sektor masyarakat untuk membahas bagaimana peradaban masyarakat dapat terbangun secara terintegrasi.

Beranjak dari hal tersebut, Dewan Kesenian Kabupaten Blitar menginisiasi sebuah program baru dengan tajuk OMJ (Obrolan Malam Jemuah). Program tersebut diharapkan mampu menciptakan ekosistem kebudayaan yang mampu mempertemukan lintas sektor dan lintas generasi.

Rahmanto Adi, Ketua Acara OMJ, menyatakan, OMJ hadir dalam menjawab problem kenapa Kebudayaan di Kabupaten Blitar sulit berkembang, kita tahu ada Ritual Jamasan Gong Kyai Pradah, Reyog Bulkiyo, Larung Sesaji Desa Tambakrejo, dan masih banyak kebudayaan di Kabupaten Blitar hanya sekedar menjadi destinasi.”

Belum lagi problem lintas generasi, dimana anak-anak muda saat ini belum peduli dengan hadirnya kebudayaan sebagai bagian dari proses pembangunan. Semacam ada keterputusan antara generasi pewaris dengan generasi yang akan mewarisi kebudayaan tersebut, Untuk itulah OMJ hadir dengan format diskusi setiap satu bulan sekali di Sekretariat Dewan Kesenian Kabupaten Blitar ini,” lanjut Rahmanto Adi.

Dalam launching OMJ, hadir sebagai pemantik diskusi, Rangga Bisma Aditya, Direktur PKBM Tunas Pratama. Dalam kesempatannya Sekretaris Dewan Kesenian Jawa Timur periode 2014-2016 ini memaparkan materi, “Mau Kemana Kebudayaan Kita? Dalam materinya, Rangga memaparkan tentang problem utama tantangan perubahan kebudayaan global yang memang mengerucutkan kepada kebutuhan terhadap Pokok Pemikiran Kebudayaan Derah di Kabupaten Blitar.

Salah satu amanah UU dalam memajukan kebudayaan daerah adalah dengan merumuskan Pokok Pemikiran Kebudayaan Daerah (PPKD). Kedepan PPKD inilah yang dijadikan acuan dalam merumuskan Strategi Kebudayaan Nasional dalam melindungi, mengembangkan, memanfaatkan, objek kebudayaan serta membina SDM Kebudayaan. Nantinya Strategi Kebudayaan Nasional dapat menciptakan ekosistem kebudayaan seperti di Korea Selatan dengan Korean Wave atau Amerika Serikat dengan Industri Budaya Pop-nya, ujar Rangga.

Lebih lanjut lagi Rangga menjelaskan bahwa, Pemerintah Kabupaten Blitar harus, membentuk Tim Perumus PPKD, dimana tim tersebut harus melibatkan Akademisi, Budayawan, Seniman, Dewan Kesenian, Perwakilan Komunitas dan Organisasi Seni Budaya, Pemangku Adat, serta Orang yang kompeten dalam kajian pemajuan kebudayaan. Karena hanya dengan hal tersebut, tantangan pembangunan kebudayaan di Kabupaten Blitar Dapat diwujudkan dengan beberapa gagasan seperti pembentukan desa budaya, perumusan teknis implementasi kurikulum berbasis kebudayaan masyarakat, hingga pembaharuan tampilan kebudayaan melalui paradigma millennial.

Acara yang digelar, Kamis, 24 Mei 2018 pkl. 20.00 wib ini juga dihadiri oleh Kepala Bidang Kebudayaan Disbudparpora Kabupaten Blitar, Hartono, Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Blitar, Wima Brahmantya, Ketua Umum ASIDEWI Andi Yuwono, serta beberapa komunitas lintas sektor seperti DTraveller, ICB Korwil Kanigoro, BPK OI Kabupaten Blitar, Komunitas Beatbox, Komunitas Pelestari Candi Mleri, Sanggar Teater Waseso Nugroho, dan UKM Teater Unisba Tali Usil. Mayoritas para peserta mengapresiasi acara tersebut dan diharapkan dengan perumuran Pokok Pemikiran Kebudayaan Daerah akan mengurai problem utama kebudayaan kabupaten blitar seperti keterputusan antar generasi dapat menjadikan kebudayaan sebagai Way Of Life di lingkungan masyarakat.(mj)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *